
Penelitian
di bidang artificial intelligence (AI), yang ditemukan lebih dari 50
tahun lalu, tampaknya menunjukkan bahwa banyak peneliti telah
menghabiskan banyak waktu mengembara di belantara, menukar ambisi yang
sangat besar dengan kenyataan pencapain yang relatif biasa-biasa saja.
Saat ini, beberapa dari perintis bidang ini, bergabung dengan generasi
pemikir saat ini memasukkan roda gigi untuk suatu kerja keras
besar-besaran untuk menggali keseluruhan ide di bidang ini.
Saat ini, mereka memastikan untuk melakukannya dengan benar dan
dengan keuntungan dari peninjauan ulang ke masa lalu, pengalaman,
perkembangan pesat teknologi baru dan pengetahuan dari bidang baru yaitu
computational neuroscience, mereka percaya mempunyai arah yang tepat.
Proyek baru yang diluncurkan dengan dana awal $5 juta dan jadwal
selama 5 tahun ini disebut dnegan Mind Machine Project atau MMP, suatu
kolaborasi sekitar dua lusin profesor, peneliti, mahasiswa dan mahasiswa
postdoktoral. Menurut Neil Gershenfeld, satu dari pemimpin MMP dan
direktur MIT’s Center for Bits and Atoms, satu dari tujuan utama proyek
ini adalah untuk menciptakan mesin cerdas – “apapun artinya”
Proyek ini “meninjau kembali asumsi dasar” di dalam semua area yang
diliputi bidang AI, termasuk sifat pikiran dan memori, dan bagaimana
kecerdasan dapat diwujudkan dalam bentuk fisik, kata Gershenfeld,
professor of media arts and sciences. “Yang penting, kami ingin kembali
ke 30 tahun lalu dan meninjau kembali beberapa ide yang telah membeku,”
katanya, dan menambahkan bahwa grup baru ini berharap untuk memperbaiki
“kesalahan mendasar” yang telah dibuat dalam riset AI selama
bertahun-tahun.
Lahirnya AI sebagai suatu konsep dan bidang ilmu muncul pertama kali
pada konferensi pada musim panas 1956, dimana ide lepas landas dengan
proyeksi kesuksesan yang cepat. Satu dari partisipan pertemuan tersebut,
Herbert Simon, memprediksikan pada tahun 1960an, mesin-mesin akan
mampu, dalam 20 tahun, melakukan pekerjaan apa pun yang bisa dilakukan
manusia.” Namun, dua dekade telah terlampaui, tujuan besar itu sekarang
tampaknya terabaikan.
Secara luas diterima bahwa AI telah gagal merealisasikan banyak
janji-janji awalnya yang mulia. “mempertimbangkan optimisme yang
berlebihan dari AI pada masa-masa awalnya, tidaklah mengherankan jika
itu semua tidak tercapai. Ini merupakan resiko pekerjaan di banyak
bidang baru,” kata Daniel Dennett, professor of philosophy at Tufts
University and co-director of the Center for Cognitive Science. Dia
mengatakan bahwa semua ini tidaklah sia-sia: “realitanya tidak
mempesona, tetapi masih mengesankan, dan banyak aplikasi AI yang
dianggap mustahil pada tahun 1980an sekarang ini menjadi hal yang
sehari-hari.” termasuk sistem otomatis yang menjawab banyak pertanyaan
telepon menggunakan pengenal suara.
Memperbaiki yang rusak
Gershenfeld mengatakan dia dan anggota MMP “ingin kembali ke belakang
dan memperbaiki apa yang rusak dari pondasi teknologi informasi.“ Dia
mengatakan bahwa ada tiga area spesifik – melakukan pekerjaan pada
pikiran, memori dan body – dimana riset AI telah terhenti, dan
masing-masing area tersebut akan dikerjakan dengan cara yang spesifik
oleh proyek baru ini.
Area pertama, kata dia, adalah sifat pikiran: “bagaimana anda membuat
model pikiran?” di dalam riset AI sekarang ini, kata dia,”apa yang
telah hilang adalah suatu ekologi model, suatu sistem yang dapat
memecahkan masalah-masalah dengan banyak cara,” seperti yang dilakukan
pikiran.
Bagian yang sulit muncul dari sifat pikiran manusia yang sangat
alami, berkembang selama milyaran tahun sebagai suatu campuran yang
kompleks dari fungsi-fungsi dan sistem-sistem yang berbeda.
“Potongan-potongan tersebut sangatlah berlainan, tidak perlu terbangun
dengan suatu cara yang harmonis,” Gershenfeld mengatakan. “terdapat pola
serupa dalam riset AI. Terdapat banyak potongan yang bekerja dengan
baik memecahkan beberapa masalah tertentu, dan orang telah berusaha
untuk mencocokkan semuanya ke dalam salah satunya. “Malahan, katanya,
yang diperlukan adalah cara untuk “membuat sistem yang terbuat dari
banyak potongan tersebut” yang bekerja bersama seperti elemen-elemen
yang berbeda dari pikiran. “daripada mencari peluru perak, kami melihat
pada range model, berusaha untuk menyatukannya dan mengumpulkannya,”
katanya.
Area kedua yang menjadi fokus adalah memori. Banyak pekerjaan di AI
telah berusaha memaksakan suatu konsistensi sistem buatan dan menguasai
keberantakan, sifat kompleks pikiran dan memori manusia. “Sekarang ini
dimungkinkan untuk menghimpun keseluruhan pengalaman hidup dari
seseorang, kemudian berfikir dengan menggunakan kumpulan data ini yang
penuh dengan ambiguitas dan inkonsistensi. Begitulah bagaimana kami
berfungsi – kami tidak berfikir dengan kebenaran yang tepat,” katanya.
Komputer perlu belajar “cara berpikir yang digunakan untuk dia bekerja,
daripada menghindari ambiguitas dan inkonsistensi.”
Dan fokus ketiga adalah bekerja pada apa yang mereka jelaskan sebagai
“body”. “Ilmu komputer dan ilmu ragawi berbeda sejak bertahun-tahun
lalu,” kata Gershnfeld. Komputer diprogram dengan menulis suatu urutan
barisan-barisan kode, tetapi “pikiran tidak bekerja dengan cara
demikian. Di dalam pikiran, semua terjadi dimana saja sepanjang waktu.”
Suatu pendekatan baru untuk pemprograman, disebut dengan RALA
(reconfigurable asynchronous logic automata) berusaha untuk
“mengimplementasikan kembali semua ilmu komputer pada suatu basis yang
terlihat seperti fisik,” katanya, merepresentasikan komputasi “dengan
suatu cara yang mempunyai unit-unit fisik yaitu waktu dan ruang,
sehingga penjelasan sistem tersebut segaris dengan sistem yang
direpresentasikan.” Ini akan dapat menjadi awal pembuatan komputer yang
“bekerja dengan suatu cara yang paralel dengan yang digunakan
otak,”katanya.
Anggota grup MMP merentang 5 generasi riset AI, Gershfeld mengatakan.
Mewakili generasi pertama adalah Marvin Minsky, professor of media arts
and sciences and computer science and engineering emeritus yang telah
memimpin dalam bidang ilmu ini sejak kelahirannya. Ford Professor of
Engineering Patrick Winston of the Computer Science and Artificial
Intelligence Laboratory adalah satu dari peneliti generasi kedua, dan
Gershenfeld mewakili generasi ketiga. Ed Boyden, seorang Media Lab
assistant professor dan pimpinan Synthetic Neurobiology Group, yang
merupakan murid Gershenfeld, mewakili generasi keempat. Dan generasi
kelima termasuk David Dalrymple, satu dari mahasiswa termuda di MIT,
yang memulai kuliyahnya pada usia 14 tahun, dan Peter Schmidt-Nielson,
anak prodigy yang melakukan home schooling yang, meskipun dia belum
pernah mengambil kelas komputer, pada usia 15 tahun telah mengambil
peran penting dalam pengembangan disain tool untuk software baru.
Proyek MMP dipimpin oleh Newton Howard, yang datang ke MIT untuk
mengepalai proyek dari latar belakang pemerintah dan riset komputer
industri dan ilmu kognitif. Proyek ini didanai oleh Make a Mind Company
yang diketuai Richard Wirt, seorang Intel Senior Fellow.
“Untuk pengetahuan kita, ini merupakan kolaborasi pertama untuk yang
seperti ini,”kata Boyden. Mengacu pada pertemuan awal grup baru ini pada
musim panas, dia mengatakan “yang unik dari semua orang yang berada di
ruangan itu adalah bahwa mereka benar-benar berpikir besar; mereka tidak
takut untuk memecahkan masalah-masalah besar, pertanyaan-pertanyaan
besar.”
Gambar Besar
Ahli psikologi Harvard Steven Pinker mengatakan bahwa ini merupakan
berpikir dengan gambaran besar yang telah sangat kekurangan dalam riset
AI sekarang ini. Sejak tahu 1980an, katanya “ada suatu fokus yang jauh
lebih besar kepada mendapatkan produk-produk software untuk pasar, tanpa
menghiraukan apakah mereka menginstantkan prinsip-prinsip yang menarik
dari sistem inteligensia yang juga dapat menerangi pikiran manusia. Ini
adalah sesuatu yang benar-benar memalukan, dalam pikiran saya, karena
para ahli psikologi kognitif (orang-orang saya) sebagian besar adalah
orang-orang lab ateoritis, ahli-ahli bahasa secara sempit fokus pada
paradigma teorinya sendiri, dan ahli filsafat pikiran sebagian besar
tidak tertarik dengan mekanisme.
“Memudarnya AI teoritis telah menyebabkan kurangnya teori dalam ilmu
pikiran,” kata Pinker. “Saya berharap bahwa gerakan baru ini akan
membawanya kembali.”
Boyden setuju bahwa waktu telah matang untuk meninjau kembali
pertanyaan-pertanyaan besar ini, karena telah ada banyak kemajuan di
berbagai bidang yang berkontribusi dalam AI. “Khususnya kemampuan untuk
imaging sistem saraf dan mengganggu sistem saraf telah membuat kemajuan
besar pada tahun-tahun terakhir ini. Dan komputer telah mengalami
kemajuan pesat – sekarang ini ada superkomputer seharga beberapa ribu
dolar yang dapat melakukan satu trilyun operasi per detik.”
Minsky, satu dari peneliti perintis AI, melihat harapan nyata untuk
kontribusi penting sekarang ini. Beberapa dekade yang lalu, Alan Turing
penghayal komputer telah terkenal mengajukan suatu tes sederhana –
sekarang dikenal dengan Turing Test – untuk menentukan apakah suatu
mesin bisa dikatakan benar-benar cerdas : jika seseorang berkomunikasi
via terminal komputer dapat melakukan percakapan dengan mesin tetapi
tidak bisa mengatakan apakah itu orang atau bukan, maka mesin tersebut
bisa dianggap cerdas. Tetapi kompetisi “Turing test” tahunan masih belum
menghasilkan suatu mesin yang dapat secara meyakinkan dipandang sebagai
orang.
Sekarang ini, Minsky mengajukan suatu tes perbedaan yang akan
menentukan ketika mesin telah mencapai suatu level kecanggihan yang
dapat mulai benar-benar berguna : apakah mesin dapat membaca suatu buku
anak-anak sederhana, memahami tentang apa ceritanya dan menjelaskannya
dengan kata-katanya sendiri atau bertanya pertanyaan beralasan tentang
cerita itu.
Tidaklah jelas apakah itu adalah suatu tujuan yang bisa dicapai dalam
jangka waktu jadwal tersebut, tetapi Gershenfeld mengatakan, “Kami
perlu proyek tantangan yang baik yang memberi kekuatan kepada kami untuk
membawa program kami bersama.”
Satu dari proyek-proyek tersebut yang sedang dikembangkan oleh grup
adalah suatu bentuk teknologi pembantu yang mereka sebut dengan
co-processor otak. Sistem ini, juga disebut sebagai sistem bantu
kognitif, akan pertama diarahkan pada penderita kelainan kognitif
seperti penyakit Alzheimer. Konsepnya adalah bahwa sistem tersebut akan
memonitor aktivitas orang dan fungsi otak, menentukan kapan mereka
memerlukan bantuan dan memberikan dengan tepat dan benar bit informasi
yang berguna – sebagai contoh, nama orang yang baru saja masuk ruangan,
dan informasi tentang kapan pasien terakhir kali melihat orang itu –
pada waktu yang tepat.
Jenis sistem yang sama, kata anggota grup, dapat juga menemukan
aplikasi untuk orang tanpa kelainan apa pun, sebagai suatu bentuk
tambahan otak – suatu cara untuk meningkatkan kemampuan mereka, misalnya
membuat segala sesuatu dari database informasi personal untuk semua
sumber internet yang secara instant tersedia seketika saat dibutuhkan.
Idenya adalah untuk membuat alat yang se non invasif dan non obtrusif
mungkin – mungkin sesuatu yang orang akan dengan mudah menyelipkannya
seperti headphone.
Boyden menganggap bahwa jadwal 5 tahun untuk proyek permulaan ini
adalah tepat. “Waktu yang cukup untuk orang dapat mengambil resiko dan
mencoba ide yang benar-benar beresiko,”katanya, “tetapi tidak terlalu
lama sehingga kita tidak akan kemana-mana.” Ini cukup pendek untuk
menghasilkan “suatu jenis tekanan yang beguna” katanya. Di antara
konsep-konsep yang mungkin bisa dieksplorasi oleh grup adalah
konsep-konsep buku adaptasi dan game yang “cerdas” – atau, seperti yang
dimaksud oleh Gershenfeld, “buku yang berpikir”.
Pada jangka panjang, Minsky masih melihat harapan untuk tujuan yang
jauh lebih besar. Misalnya, dia menunjuk pada fakta bahwa iPhone nya
sekarang dapat mendownload ribuan aplikasi yang berbeda, secara instant
memberi peluang untuk melakukan fungsi-fungsi baru. Mengapa tidak
melakukan hal yang sama untuk otak? “saya akan mampu mendownload
kemampuan main sulap,” katanya. “Tak ada yang lebih membosankan daripada
belajar main sulap.”
Source : Massachusetts Institute of Technology